Senin, 16 Maret 2015

Dari Pembodohan Cinta hingga Kompensasi Waktu

Aku tak tahu apakah aku masih bisa berpikir rasional atau tidak.
Kalau ini di dalam film mungkin aku sudah berbuat nekat lalu sampailah kita pada ending cerita dimana si pria sangat menyesal namun sudah terlambat.
Sayangnya hidup tak sebercanda itu..
Nyatanya aku masih hidup, bernafas dan sesak.
Keadaan seperti inilah yang membuat aku merasa begitu akrab dengan lagu-lagu Alesana,
Setiap teriakan rasanya seperti mencabik luka hingga kau tak bisa membedakan lagi apakah itu sakit atau tidak.


Sudah banyak tulisan yang memuat pembodohan cinta.
Tapi toh banyak juga yang tidak jera dan kerap kali membiarkan cinta itu masuk.
Itulah hebatnya hati manusia.

Dalam kasus ini, aku merasa sangat payah harus bersaing dengan 'lingkungan'
Bagaimana kau merasa harus menjaga pergaulanmu hingga aku terabaikan.
Bagaimana kau seolah-olah membuat aku menjadi tersangka ketika lingkungan memusuhimu.
Sementara aku seperti menutup rapat-rapat duniaku karena merasa menemukan dunia baru yang begitu nyaman. Kamu..
tapi tenang, aku tak akan membuatmu memilih siapa yang menjadi prioritasmu,
Karena pasti aku yang kalah.

Sebagai seorang pria aku ingin kau bisa tegas, Sayang.
Aku tau kita tak pernah bisa lepas dari lingkungan (kau selalu bilang ini ketika aku marah)
Aku bersyukur kau sibuk bekerja 8 jam sehari 6 kali dalam seminggu, karena kau sedang membantuku merancang masa depan kita.
Aku juga akan mengerti kesibukanmu mendukung tim sepak bola kesayanganmu.
Serta kesibukan lain yang tak bisa kau tinggalkan.

Aku janji, aku tak akan meminta banyak..
Aku tak akan melarangmu, hanya saja aku mohon beri aku kompensasi untuk setiap waktumu yang seharusnya milikku tapi kau gunakan untuk mereka.
Tak perlu buru - buru karena aku pasti menunggumu.

Ps: tapi ingat kompensasi itu adalah hutang yang kau harus penuhi :p

I love you with all my heart, Cin.

2 komentar: