Kamis, 12 November 2015

Tentang Menggurui Orang yang Lebih Hebat

Seringkali rasa sayang kita disalahartikan atau justru kita yang salah mengekspresikan.
Yang aku tau adalah kami tidak pernah ingin saling menyakiti.
Aku hanya mencoba meyakinkanmu bahwa "kamu bisa lebih dari itu, kamu jauh lebih hebat daripada yang kamu kira, Say"
Mau tidak mau suatu saat nanti kita akan dipaksa keluar dari zona nyaman.

Dulu jarak rumah ke sekolahku hanya 5 menit sekarang aku harus berangkat setiap pagi bolak balik Gianyar - Bukit - Gianyar bersama pengemudi-pengemudi lainnya yang diburu waktu tanpa memperhatikan keselamatan orang lain.
Belum lagi kontruksi jalan dimana-mana yang membuat tanganku lemas karena harus selalu sigap menanggapi apapun yang ada di depan.
Dulu saat SMA aku bisa diam saja dalam diskusi tetapi ketika kuliah aku dipaksa untuk berbicara aktif di kelas. Untuk orang seperti aku sangat sulit rasanya. Bahkan untuk bertanya dalam kelas sampai sekarang aku masih takut. Tapi aku harus.

Oke, mungkin itu tidak sebanding dengan pekerjaanmu yang berat itu.
Aku cuma si lemah yang merasa hebat karena melakukan hal-hal sepele seperti tadi.
Tapi paling tidak aku sudah berusaha.

Sayang, aku tidak pernah berusaha menjatuhkanmu.
Ketika ada tekanan yang keras dari orang sekitarmu, sel-sel dalam otakmu juga bekerja lebih keras untuk mendorongmu melakukan sesuatu yang kau pikir kau tak akan bisa melakukannya.

Dan itulah yang aku berusaha lakukan tadi.
Sayangnya kau menanggapinya dengan ketus seolah-olah aku seperti orang yang mengajari ikan caranya berenang.
Sakit sekali rasanya ketika niat baik diartikan seperti ancaman dari seorang musuh.
Semoga kau tidak marah saat membaca ini.
aku hanya ingin kau tahu bahwa semua ejekanmu, semua kata-katamu yang membuatku marah tanpa kau sadari telah membantuku menjadi lebih baik.
Membantuku memungkinkan sesuatu yang dulu aku pikir aku tidak sanggup.

Selamat tanggal 12 Cinbroku, aku sayang kamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar